Dibandingkan dengan Tugu yang menjadi landmark kota-kota lain, Tugu Jogja memiliki ukuran yang lebih kecil. Lihat saja Monas sebagai Landmark kota Jakarta, Menara Eiffel sebagai Landmark kota Paris, Patung Liberty sebagai Landmark kota New York, dan Jam Gadang sebagai Landmark kota Bukittinggi, namun begitu Tugu ini menjadi simbol kota Yoyakarta.
Monas, Menara Eiffel, Patung Liberty, Jam Gadang
Tugu Jogja merupakan landmark kota Yogyakarta, tugu ini berada tepat di tengah perempatan Jl. Pangeran Mangkubumi, Jl. Jendral Soedirman, Jl. A. M. Sangaji dan Jl. Diponegoro. Tugu yang berusia hamper 3 abad ini memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.
Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri oleh Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta. Tugu ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.
Selain mempunyai nilai simbolis, Tugu ini merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi. Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa Jalan Malioboro, Jl Mangkubumi, tugu ini, dan Jalan Monument Yogya Kembali akan membentuk satu garis lurus persis dengan arah ke puncak gunung Merapi.
Pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu yang runtuh karena gempa bumi pada tanggal 10 Juni 1867. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Lokasi : Jl. Simongan Semarang
Pemilik : Yayasan Klenteng Sam Po Kong Gedung Batu
Penggunaan : Tempat Pemujaan Sam Po Tay Djien
Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.
Klenteng Sam Po Kong disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Klenteng Sam Po Kong telah berubah dari bangunan kayu tradisional menjadi bangunan beton besar beratap Ngang Shan. Bangunan lama didepan gua Sam Po Kong, di kaki sebuah bukit kecil telah dipindah dan sebagian bukit dipapas demi memberi ruang untuk bangunan baru. Sekarang gua Sam Po Kong ada dibawah bangunan baru dan sebuah gua baru dibuat di balik bangunan itu, menggantikan gua asli dibelakang bangunan klenteng lama yang telah dihancurkan. Meskipun dulunya merupakan sebuah Masjid akan tetapi sekarang di dalam gua diletakan sebuah altar besar, untuk keperluan sembahyang dan pemujaan. Sebuah patung Sam Po Kong raksasa pun didirikan di depan klenteng untuk menyerap kekuatan dewa. Keseluruhan kawasan klenteng, yang terdiri atas banyak bangunan dalam sebuah perkarangan yang luas, sekarang disebut objek wisata budaya Sam Po Kong.
Disebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng Ho di Kota Semarang. dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960.
Arsitektur Klenteng ini merupakan perpaduan dari budaya Jawa dan budaya Cina. Kelenteng Sam Po Kong memiliki bentuk atap yang berbentuk melengkung dengan melancip kearah atas pada bagian sisi ujungnya. Perbedaan ruang-ruangnya adalah terletak pada ketinggian, warna lantai yang berbeda serta penataan kolom-kolom. Sehingga walaupun tidak memiliki dinding yang menjadi batasan sebuah ruang, namun orang yang datang ketempat ini dapat langsung mengetahui batas-batas ruangnya. Di hampir seluruh area klenteng ini, terdapat pahatan gambar kapalSam Po Kong dan naga sebagai makhluk suci yang dipercaya oleh orang Cina sebagai kekuatan gaib yang menguasai dunia.Kawasan ini “dijaga” oleh empatjenderal yang disimbolkan dalam bentuk patung. Sebagian dari patung ini menyerupai manusia biasa, sedangkan dua sisanya mirip dengan gambaran dewa-dewa Cina, dengan janggut panjang, wajah yang unik, dan pakaian dengan atribut khusus. Facade gua berlukisan sepasang naga dengan bola api yang terletak di tas ambang pintu masuk yang sempit.
Klenteng ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu Kuil Sam Po Kong, kuil Mbah Juru Mudi, dan kuil Dewa Bumi.Kesemua kuil ini memiliki arsitektur yang mirip dan didasarkan pada arsitektur Istana Terlarang di Cina dengan ciri khas gaya atap yang bertumpuk tiga yang melambangkan kelopak teratai.Warna yang dominan pada setiap bangunan di Klenteng Sam Po Kong adalah merah, kuning, dan hijau. Dalam budaya Cina, warna merah melambangkan kebahagiaan dan menolak pengaruh jahat, warna hijau merepresentasikan warna alam, dan warna kuning adalah warna kekaisaran. Sedangkan , sentuhan budaya Jawa terlihat dari pendopo di pintu gerbang, patung togog, dan ukir-ukiran di beberapa bagian klenteng.
Sebenarnya, di kuil pertama ini hanya ada gua suci Sam Po Kong di mana dulunya digunakan oleh Cheng Ho untuk mengambil air wudlu. Pengaruh Islam juga didapati pada bedug yang diletakkan di dalam kuil. Ukuran dan bentuk bedug di kuil pertama ini sangat mirip dengan bedug yang ada di masjid. Hanya warna merah yang membuatnya berbeda dengan bedug-bedug yang lainnya. Ada pula pengaruh Budha di kuil ini, berupa lonceng besar yang digunakan untuk memfokuskan pikiran selama meditasi. Sedangkan pengaruh Tao dapat dilihat dari jumlah genap dari lilin besar di halaman kuil yang merupakan represntasi dari keseimbangan yin dan yang.
Kuil yang kedua berikut ini ditujukan untuk menyembah makam mbah juru mudi(Wang Jing Hong, wakil Zheng Hoo dalam pelayarannya). Bangunan makam merupakan bangunan sederhana beratap pelana. Pintu masuknya terletak di tengah dan di kedua sisinya terdapat jendela bundar. Di bawah kedua jendela bundar terdapat lukisan berwarna yang mengisahkan perjalanan pelayaran Sam Po. Selain makam mbah juru mudi, ada tempat lain yang biasanya dipakai para peziarah untuk berdoa dan bermeditasi, yaitu pohon besar yang letaknya persis di samping makam.
Nisan mbah juru mudi itu sendiri sangat Islami, dengan tulisan Arab yang berupa syahadat di kain penutup peti jenazah. Pada kedua sisi makam, terdapat arcayang persis dengan arca di gerbang sebuah kuil Hindu di Yogyakarta. Patung-patung ini dianggap sebagai “penjaga” makam. Budaya Jawa sangat mempengaruhi munculnya arca-arca penjaga seperti ini. Pengaruh dari budaya Jawa yang lain adalah ukiran dan tulisan dengan alphabet Jawa yang berdampingan dengan tulisan Cina.
Kuil ketiga yang disembah adalah Dewa Bumi yang memiliki nama Hok Tek Ching Shin, Fu Te Cheng Sen, atau Ta Pe Kongyang terletak di belakang pintu gerbang, merupakan yang paling populer. Di kalangan masyarakat yang agraris, Dewa Bumi ini sangat dihormati dan selalu dimintai berkahnya. Bangunan awalnya beratap pelana dengan bubungan melengkung dan teritisan yang disosorkan. Kini bangunan tersebut seperti sebuah anjungan beratap limasan dengan bidang atap dan bubungan yang dilengkungkan ke atas. Penutup atap yang semula genteng telah diganti dengan seng bergelombang.
Metoda Doktrin (satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur)
Kubah adalah 1 lengkung (atap); 2 atap yg melengkung merupakan setengah bulatan (kupel): -- masjid;
Kubah, Sumber : google.com
Kubah bukan merupakan simbol keagamaan, namun sudah membudaya sehingga kubah dijadikan sebagai identitas bangunan masjid sama halnya dengan lambang bulan dan bintang pada masjid.
Masjid Agung Semarang, Masjid Baiturahman (kiri) dan Masjid Istiqlal (kanan). Sumber : google.com
Studi Kasus : Kubah yang digunakan pada Gereja
Gereja Blenduk, Sumber : google.com
Gereja GPIB Immanuel merupakan gereja kristen tertua di Jawa Tengah. Gereja yang lebih sering disebut Gereja Blenduk ini dikenal karena keistimewaan kubahnya yang mirip dengan kubah masjid. Dapat dikatakan bahwa kubah gereja ini merupakan vocal point dan menjadi keunikan tersendiri pada bangunan gereja.
Kesimpulan :
Kubah bukan merupakan simbol keagaman (agama Islam), namun karena telah membudaya sejak lama dalam penggunaannya sebagai atap pada masjid sehingga menjadikan kubah identik dengan bangunan masjid. Seperti bangunan Gereja Blenduk karena desainnya (kubah) berbeda dengan gereja lainnya dan mirip dengan masjid sehingga bangunan gereja tersebut dikatan unik dan istimewa.
Bentuk Kubah sekarang ini dijadikan identitas masjid, apabila masjid tanpa kubah menjadikan bangunan tersebut terlihat janggal. Kini tidak hanya dalam penggunaan atap namun kubah juga digunakan sebagai ornamen – ornamen (bentuk jendela, pintu, pagar, dll.)pada masjid.